Senin, 08 Mei 2023

KERAJAAN ISLAM DI INDONESIA

LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK (LKPD) 
 1. Kegigihan dan semangat para juru dakwah melalui berbagai saluran islamisasi di Indonesia berperan penting terhadap keberhasilan dakwah di Indonesia. Salah satunya adalah saluran kesenian tradisional. Hal ini dikarenakan … . 
A.kesenian merupakan sarana unjuk kemampuan para da’i 
B.masyarakat Indonesia menyukai kesenian tradisional 
C.banyak seniman yang beragama non-Islam akan tersingkir 
D.mengurangi resiko perbedaan pendapat di antara masyarakat 
E.akan mendapatkan penghargaan dari keluarga kerajaan 

 2. Teori Persia yang disampaikan oleh Prof. Dr. Husein Djajadiningrat mengatakan bahwa Islam masuk dari Persia dan bermazhab Syi’ah. Pendapat ini didasarkan pada sistem mengeja bacaan huruf Al-Qur`an, terutama di Jawa Barat yang menggunakan ejaan Persia. Namun teori ini memiliki kelemahan, yaitu … . 
A.adanya fakta bahwa mayoritas muslim Jawa Barat bermazhab Syafi’i sekaligus berpaham Ahlussunnah wal Jama’ah, bukan pengikut Syi’ah 
B.tidak ditemukan jejak peninggalan ajaran Syiah di Indonesia, khususnya di wilayah Jawa Barat 
C.Mazhab Syafi’i merupakan mazhab mayoritas masyarakat Persia, baik yang merantau ataupun yang tinggal di sana 
D.Paham Ahlussunnah wal Jama’ah dapat diterima dengan baik oleh penduduk asli Persia yang mukim di Jawa Barat 
E.Tidak ditemukan adanya pondok pesantren di Jawa Barat yang menganut Syi’ah dan Ahlussunnah wal Jama’ah 

 3. Walaupun di Makkah dan Madinah terjadi perang selama kurun waktu sepuluh tahun antara 1-11 H/622-623 M, namun tidak memutuskan jalur perdagangan laut yang sudah menjadi tradisi sejak lama, yakni jalur antara Timur Tengah, India dan Cina. Hubungan perdagangan ini semakin lancar pada masa Khulafaur Rasyidin. Ini menjadi bukti bahwa … . 
A.umat Islam wajib menjaga keseimbangan antara hidup di dunia dan kehidupan akhirat 
B.tidak ada kesempatan bagi umat lain untuk menguasi jalur laut karena ketangguhan umat Islam 
C.umat Islam memiliki kemampuan dalam penguasaan datang melalui jalur maritim 
D.dunia politik akan terus berubah terus seiring dengan perkembangan teknologi modern 
E.jalur laut merupakan satu-satunya jalur untuk menyebarkan ajaran Islam ke seluruh dunia 

 4. Perhatikan narasi berikut ini! Nama aslinya adalah Meurah Silu, Meurah Silu memeluk Islam berkat pertemuannya dengan Syekh Ismail dari Mekah. Semasa berkuasa menjadi sultan, sempat menerima kunjungan dari Marco Polo, Berdasarkan narasi tersebut, tokoh tersebut adalah … . 
A.Sultan Ahmad
 B.Sultan Alaudin Riayat Syah
 C.Sultan Alauddin 
D.Sultan Malik al-Shaleh 
E.Sultan Zainal Abdin 

 5. Perhatikan narasi berikut ini! Sultan Alaudin Riayat Syah mendatangkan ulama-ulama dari Persia dan India untuk mengajarkan agama Islam di Kesultanan Aceh. Setelah terbentuk kader-kader pendakwah, selanjutnya dikirim ke daerah pedalaman Sumatera untuk menyampaikan ajaran Islam. Hikmah yang dapat diambil dari narasi tersebut adalah … . 
A.setiap dakwah Islam memerlukan pengorbanan harta benda yang sangat besar 
B.letak geografis sangat menentukan berhasil dan tidaknya sebuah perjalanan dakwah 
C.dukungan dari masyarakat sangat diperlukan untuk menunjang kesuksesan dakwah 
D.tingkat pendidikan yang rendah akan memudahkan penyebaran Islam ke wilayah tersebut 
E.kepedulian seorang pemimpin terhadap penyebaran ajaran Islam di wilayahnya 

 6. Kerajaan aceh Darussalam dapat menguasai kerajaan Samudera Pasai pada masa pemerintahan.. 
a. Sultan Mudaffar Syah 
b. Sultan Hasanudin 
c. Sultan Iskandar Muda 
d. Sultan Ali Mughayat Syah 
e. Sultan Alauddin Riayat Syah at-Qahhar 

 7. Berikut ini yang termasuk kerajaan Islam di Riau yaitu … 
a. Sriwijaya 
b. Siak 
c. Samudera Pasai 
d. Aceh Darussalam 
e. Singasari 

 8. Kerajaan Indragri, Kampar dan Siak dikuasai oleh kerajaan Malaka ketika masa pemerintahan …. 
a. Sultan Mansyur Syah 
b. Sultan Hasanudin 
c. Sultan Iskandar Muda 
d. Sultan Ali Mughayat Syah 
e. Sultan Alauddin Riayat Syah at-Qahhar 

 9. Kemajuan kerajaan aceh dialami pada masa kesultanan… 
a. Sultan Mudaffar Syah 
b. Sultan Hasanudin 
c. Sultan Iskandar Muda 
d. Sultan Ali Mughayat Syah 
e. Sultan Alauddin Riayat Syah at-Qahhar 

 10. Kesultanan aceh mempersiapkan diri untuk menyerang Portugis, akan tetapi batal karena wafatnya sultan… 
a. Sultan Mudaffar Syah 
b. Sultan Hasanudin 
c. Sultan Iskandar Muda 
d. Sultan Ali Mughayat Syah 
e. Sultan Alauddin Riayat Syah at-Qahhar

Minggu, 25 September 2022

Persebaran Ras Nenek Moyang Bangsa Indonesia

Kegiatan pembelajaraan kali ini peserta didik diminta untuk menyimak video mengenai Persebaran Ras Nenek Moyang Indonesia setelah menyimak video, peserta didik berdiskusi dengan teman kelompok mengenai ciri-ciri, corak kehidupan dan peninggalam kebudayaan Ras Proto Melayu dan Deutro Melayu

Selasa, 19 April 2016

Perjalanan, Pengharapan

saat ini, kita berjalan beriringan
tertatih dan saling menguatkan
perjalanan yang sebenarnya sangat melelahkan
ada kalanya kita merasa bosan
ada waktunya kita mencoba melupakan
ada saatnya kita hampir menyerah dan meninggalkan
semuanya itu seolah terhapus hanya dengan satu kata
do'a..
kita sangat menyadari
bahwa kita hanya dikuatkan oleh sebait do'a
do'a dengan bernafaskan cinta
sepenggal pengharapan agar kita senantiasa bahagia
permintaan agar kelak kita dalam kisah yang sama
namun, kita juga menyadari
pada akhirnya, kita tidak akan pernah tahu pada siapa hati kita akan bersua
tapi percayalah, ada Tuhan yang tidak pernah lelah menuntun di setiap langkah kita.


Malang, 20 April 2016
03.00 AM

Minggu, 26 Januari 2014

Paralayang

getar bibirmu
matamu yang biru
pelan-pelan luruh dan senyap membasuh lukaku
dan seperti memilin rindu,
engkau dan aku sama terpaku
betapapun aku ingin memasuki segalanya dalam dirimu,
lalu menunggu..
betapapun aku ingin menjadi matahari yang telah berlalu,
melingkupimu..
malam, aku tidak ingin engkau cepat berlalu
bisikmu pada hujan
lalu diam.
hujan, aku ingin bersama ia hari ini
menuai mimpi.
aku hanya ingin ia,
engkau
bersama
saling bercengkrama.


31 Januari 2013
Tuan Penggenap Renggang Jemari

Kamis, 27 Juni 2013

Kasihku (barangkali ini)

kasihku,
seanggun senyummu
mengantarku ke jalan terjal
menuju jenjang buah bibirmu
menyatukan matahari

kasihku,
sebening matamu
memberiku seteguk matahari
dengan khas wanginya dipagi hari
menelanjangi embun dalam pertapa sunyi,

kasihku,
seluas dadamu
meletakkanku pada ruas detak jantungmu
sepanjang tanahku
atau ke benua benua barangkali,
menelusuri pulau pulau
dari pulau kiri smpai pulau kirana

kasihku,
selaksa kasihmu dalam kisah almasih
maryam dalam tanah jeruji
ibrahim dan ismail dalam ikrar suci
itulah barangkali,
karena kasihku tak terbilang waktu
sesungguhnya kasihku, adalah tanah yang terus kau airi
dalam musim kemarau dan semiku..



by "Kunang-kunang Senja" 
28 Juni 2013

Jumat, 21 Juni 2013

Elegi Ni

Hujan ini takkan berhenti mencatat sejarah
Hingga aku benar-benar berlabuh di danau matamu yang asmara
Dayunglah sampan resahmu ke muara kesetiaan
Bangunlah kuil di dadamu
Agar purnama bisa mendekap lebih lekat
Satukanlah purnama yang hampir sempurna
Biarkan aku menjadi bintang di langit hatimu
Tak usah kau sebut siapa-siapa
Sebab ia tak bernama
Seperti jejak langkahmu yang tertanam dalam rahim waktu.



21 Juni 2013
By "Kunang-kunang Senja"

Angka Dalam Duka

Satu adalah aku yang terkapar bersama waktu
Dua adalah aku yang terluka
Tiga adalah aku yang nista
Empat adalah aku yang tak lagi punya hibat
Lima adalah aku yang tak lagi purnama
Enam adalah aku yang terbenam
Tujuh adalah aku yang luruh
Delapan adalah aku yang tak lagi punya elan
Sembilan adalah aku yang tak lagi punya harapan
Sepuluh adalah aku yg rapuh
: karenamu..



14 Juni 2013
By "Kunang-Kunang Senja"

Hujan dan Geriap Rindu


Ni, disini hujan,
Apakah kau dengar?
Tapi sepertinya belum turun.
Ni, ada tangis dari gerimis yang mulai tercium pagi.
Begitu wangi,
sesekali ingin menjadi segalanya pada pagi ini.
Pada ketiadaan.
Pada tanah dimana rindu mulai menjamah.
Coba kau lihat, Ni
hujan dan rindu tak pernah mendahului
apalagi membelakangi, katamu
mereka saling akrab menemani sepi
bahkan ketika waktu mulai letih
hujan dengan segera singgah dan mentasbihi
dan ketika segalanya nyaris tiada
rindu segera merapalkan do'a do'a
sementara engkau, cukup mengamininya,
Ni, disini msih hujan,
apakah kau dengar?


15 Juni 2013
By "Kunang-kunang Senja"

Jumat, 14 Juni 2013

Selaksa Jingga

entah harus kusebut apalagi petang ini,
yang harumnya mengantarku ke lembah tak terpahami
dan seperti bertukas nafas, engkau dan aku sama terpaku.
Tapi aku sadar satu hal,
ada yang terpenggal sebelum matahari kau tinggalkan
dan gerimis itu mulai menepi disuatu pagi
entah malammu?
Seharusnya kau mengerti dan lebih dulu kau tahu,
cahaya itu, matahari yang terus berjalan memunggungi setiap penglihatan,
kalau saja kau lebih awal datang,
dan mempersembahkan mawar bersama harumnya
mungkin jalan itu akan lebih semerbak
dari jalan setapak dan kutemukan embun bersama tetesnya,
yang mungkin jatuh di tempat lain.

by "kunang-kunang senja"
14 Juni 2013

Minggu, 09 Juni 2013

Puisi Sederhana Untuk Engkau Yang Purnama

ini yang kau minta,
hujan dengan geriap angin
menapaki tiap jalan
mengalungkan angan pada sepasang mata yang perlahan tertusuk tetesnya
ini yang kau minta,
hujan dengan tetes yang terkembang dan sunyi yang mulai menepi
aku seperti engkau, terpukau pada hujan
ya, hanya pada hujan
dan kesekian purnama bersama
sekian musim menjelma
sekian gerhana kita cipta
sekian kemarau menghalau
engkau dinasti tak berdimensi
aku diksi seucap puisi
dan selain itu tak ada lagi, selain rindu..



by: "kunang-kunang senja"
08 Juni 2013

Kamis, 17 Januari 2013

Warok Ponorogo


Reog adalah salah satu kesenian budaya yang berasal dari Jawa Timur, dan Ponorogo dianggap sebagai kota asal Reog yang sebenarnya. Gerbang kota Ponorogo dihiasi oleh sosok warok dan jathilan yang dulunya merupakan gemblak, dua sosok yang ikut tampil pada saat Reog dipertunjukkan. Reog adalah salah satu bukti budaya daerah di Indonesia. Banyak hal yang terkesan mistis dibalik kesenian Reog Ponorogo. Reog mempertontonkan keperkasaan pembarong dalam mengangkat dadak merak seberat sekitar 50-80 kilogram dengan kekuatan gigitan gigi sepanjang pertunjukan berlangsung.

Instrumen pengiringnya, kempul, ketuk, kenong, genggam, ketipung, angklung dan terutama salompret, menyuarakan nada slendro dan pelog yang memunculkan atmosfer mistis, unik, eksotis serta membangkitkan semangat. Satu group Reog biasanya terdiri dari seorang warok tua, sejumlah warok muda, pembarong, penari bujang ganong, jathilan, dan Prabu Kelono Sewandono. Jumlah kelompok reog berkisar antara 20 hingga 30-an orang, peran utama berada pada tangan warok dan pembarongnya. (Ari Saksono)

Kesenian ini banyak mengandung nilai mistis. Warok misalnya, adalah tokoh sentral dalam kesenian ini yang hingga kini menyimpan banyak hal yang cukup kontroversial. Tidak sedikit orang yang menganggap profil warok telah menimbulkan citra kurang baik dalam kesenian ini. 




Syarat untuk menjadi warok
Warok adalah orang yang mempunyai tekad suci, siap memberikan tuntunan dan perlindungan tanpa pamrih. Warok berasal dari kata wewarah. Artinya, seseorang menjadi warok karena mampu memberi petunjuk atau pengajaran kepada orang lain tentang hidup yang baik. Warok adalah orang yang sudah sempurna dalam laku hidupnya, dan sampai pada pengendapan batin. (Http:/ariesaksono.wordpress.com.)

Warok merupakan  pasukan yang bersandar pada kebenaran dalam pertarungan jahat dalam kesenian Reog. Warok tua adalah tokoh pengayom, sedangkan warok muda adalah warok yang masih dalam taraf menuntut ilmu. Hingga saat ini, warok dipersepsikan sebagai tokoh yang pemerannya harus memiliki kekuatan gaib tertentu. Bahkan tidak sedikit cerita buruk seputar kehidupan warok. Syarat untuk menjadi warok yaitu warok harus menguasai apa yang disebut Reh Kamusankan Sejati atau jalan kemanusiaan yang sejati. (Ernanda Pramiyozi)

Warok harus memiliki kesaktian. Kesaktian itu diperoleh dari pusaka yang dimilikinya ataupun pada saat calon warok  ditempa dengan berbagai ilmu kanuragan dan ilmu kebatinan. Ilmu kanuragan itu diperlukan sebagai bentuk pertahanan fisik terhadap ancaman atau bahaya dari luar diri warok. Setelah dinyatakan menguasai ilmu tersebut, ia lalu dikukuhkan menjadi seorang warok sejati. Ia memperoleh senjata yang disebut kolor wasiat, serupa tali panjang berwarna putih, senjata andalan para warok. Pusaka yang dimiliki warok merupakan turun temurun dari nenek moyang mereka. Ada juga yang memperoleh pusaka tersebut melalui bertapa dahulu.

“ Warok harus bisa mengekang segala hawa nafsu, menahan lapar dan haus, juga tidak bersentuhan dengan perempuan. Warok juga harus  jujur, dan mempunyai gemblak.” (Soedarto)

Cara mempertahankan kesaktian warok
Dulunya, warok dikenal mempunyai banyak gemblak, yakni lelaki belasan tahun yang kadang lebih disayangi daripada istri dan anaknya. Memelihara gemblak, dengan tujuan untuk mempertahankan kesaktiannya. Apalagi ada kepercayaan kuat di kalangan warok, hubungan intim dengan perempuan bahkan dengan istri sendiri menyebabkan lunturnya kesaktian warok.

Warok harus melakukan kontrak dulu dengan orang tua gemblak. Dan biasanya para warok berpatungan untuk memiliki gemblak. Artinya, beberapa hari sekali seorang gemblak dipindahtangankan dari satu warok ke warok lain. Seorang warok bisa saja memiliki beberapa gemblak.

Memelihara gemblak merupakan tradisi dalam komunitas seniman reog. Jumlah gemblak yang dimiliki dan ketampanan seorang gemblak merupakan suatu kebanggaan warok. Bagi warok, hal tersebut wajar, bahkan hal tersebut juga diterima masyarakat. Gemblak bukan hanya dirawat dan disekolahkan oleh warok pemiliknya, tapi juga diajari sopan santun dalam bergaul dan juga diajari menari dan berlatih kesenian reog.



Para gemblak umumnya menyebut warok yang memelihara dengan panggilan Bapak. Gemblak sekaligus menjadi semacam asisten pribadi yang dibawa kemana mana. Kegiatan pasar atau undangan hajatan perkawinan merupakan saat untuk memamerkan gemblaknya kepada masyarakat dan warok yang lain. Bagi seorang warok , memiliki gemblak adalah simbol status. Banyak cara yang harus ditempuh untuk bisa mendapatkan gemblak idaman yang sudah diincarnya. Demi sebuah perhelatan, seorang warok bisa menyewa gemblak pujaan yang dimiliki warok lain selama beberapa jam, untuk dibawa dan dipamerkan selama hajatan tersebut. (Http:/penulis.bloggaul.com.)

Tidak mudah membayangkan apa yang terjadi dalam kehidupan gemblak. Mereka sangat dicemburui oleh warok pemiliknya, terutama jika mereka berjalan dan dilirik orang lain, maka warok pemiliknya akan mendatangi orang tersebut dan memarahinya.

Pandangan masyarakat Ponorogo tentang warok
Jaman yang terus berubah serta pemahamaan norma agama membuat praktek warok dan gemblak hampir sulit ditemui lagi di kawasan Ponorogo. Hingga sekarang warok masih tetap ada, karena warok sekarang lebih diartikan sebagai seniman reog saja.

“Sebenarnya nama warok dapat diartikan 2, yakni warok’an dan warok itu sendiri. Warok’an itu orang yang mempunyai sifat sombong, nakal, sering bergonta-ganti perempuan, uang banyak dan sering pergi ke warung-warung mentraktir teman-temannya untuk memamerkan kekayaannya. Yang namanya warok’an itu tidak mempunyai kesaktian. Hanya kesombongan yang diunggulkan warok’an. Sedangkan warok itu mempunyai kesaktian, bersifat pendiam, tenang, dan tidak sombong. Setiap ada tantangan warok selalu siap kapanpun dan dimanapun tempatnya. Memang, seorang warok tidak mengenal dengan perempuan. Warok mempunyai gemblak-gemblak, tetapi hanya dengan itu, para warok dapat mempertahankan kesaktiannya. Dan dengan mempunyai gemblak, warok akan lebih disegani masyarakat.” (Soedarto)

Warok sejati pada masa sekarang hanya menjadi legenda yang tersisa. Beberapa kelompok warok di daerah-daerah tertentu masih ada yang memegang teguh budaya mereka dan masih dipandang sebagai seseorang yang dituakan dan disegani. (Http:/ariesaksono.wordpress.com)

Dilihat dari sisi agama, tradisi warok yang memelihara gemblak merupakan suatu kesalahan dan tidak dibenarkan. Namun, banyak yang menganggap hal tersebut sudah menjadi tradisi. Karena kedekatannya dengan dunia spiritual, sering membuat warok dimintai nasehatnya sebagai pegangan spiritual ataupun ketentraman hidup. Petuah dari seorang warok tua sebenarnya sudah sering didengar namun kata-kata dari mulutnya seolah-olah bertenaga. Saat ini pun para warok yang dulunya memelihara gemblak, sudah banyak yang menikah dengan perempuan dan mempunyai anak.

Sebegitu jauh persepsi buruk atas warok, diakui mulai dihilangkan. Upaya mengembalikan citra kesenian ini dilakukan secara perlahan-lahan. Dalam konteks ilmu sosial, perubahan tradisi warok tersebut termasuk dalam paradigma ilmu sosial non-positivis, tradisi tersebut mulai dihilangkan karena sangat bertolak belakang dengan ajaran agama. Profil warok saat ini mulai diarahkan kepada nilai kepemimpinan yang positif dan menjadi panutan masyarakat. Termasuk pula memelihara gemblak yang kini semakin luntur. Gemblak yang biasa  berperan sebagai penari jathilan, kini perannya digantikan oleh remaja putri. Padahal, dulu kesenian reog ini tampil tanpa seorang wanita pun.

Perubahan penari Jathil dari laki-laki ke perempuan ini berhubungan dengan semakin terkuburnya praktek gemblakan, yaitu ketika penonton lebih menggemari jathil perempuan daripada laki-laki. Namun lebih dari itu, apabila dilihat dari konteks politik yang berkembang pada saat itu, praktek gemblakan dianggap tidak sesuai dengan kepribadian bangsa atau tidak sejalan dengan kebudayaan Indonesia yang adiluhung, sehingga sosok perempuan sangatlah penting untuk menggantikan sosok homo yang pada saat itu menjadi sosok yang harus ditutup-tutupi. (Muhammad Zamzam Fauzannafi)


Kesimpulan
Warok, adalah tokoh sentral dalam kesenian ini yang hingga kini menyimpan banyak hal yang cukup  kontroversial. Tidak sedikit masyarakat yang menganggap profil warok telah menimbulkan citra kurang baik dalam kesenian ini. Untuk menjadi warok tidak mudah. Warok harus mempunyai kesaktian yang diperoleh dari pusaka ataupun yang diperoleh pada saat menuntut ilmu kanuragan dan kebatinan. Ilmu kanuragan itu diperlukan sebagai bentuk pertahanan fisik terhadap ancaman atau bahaya dari luar diri warok. Karena warok itu diibaratkan prajurit yang kapanpun dan dimanapun terjadi peperangan di daerahnya, warok harus selalu siap untuk berjuang menjaga daerahnya dan warok harus selalu siap untuk menerima tantangan. Warok juga harus menguasai apa yang disebut Reh Kamusankan Sejati yang artinya jalan kemanusiaan sejati. Warok juga harus menahan segala hawa nafsu, menahan lapar dan haus, juga menahan untuk tidak bersentuhan dengan perempuan.
Seorang warok juga harus mempunyai gemblak. Yaitu laki-laki belasan tahun yang tampan. Dan kadang-kadang lebih disayangi daripada istri dan anaknya. Bahkan ada kepercayaan dikalangan warok, jika melakukan hubungan intim dengan perempuan meskipun dengan istrinya sendiri akan menyebabkan lunturnya kesaktian warok. Gemblak, berfungsi untuk mempertahankan kesaktian warok. Seorang warok dapat memiliki satu, atau beberapa gemblak.
Dilihat dari nilai agama, tradisi warok yang memelihara gemblak merupakan suatu kesalahan yang besar. Namun menurut para komunitas warok, hal tersebut hanya merupakan tradisi dan hanya sebagai simbol status. Dan dengan itu, warok dapat mempertahankan kesaktiannya. Namun saat ini pemahaman terhadap norma agama yang semakin baik membuat praktek warok dan gemblak semakin sulit ditemui. Profil warok yang dulunya tidak baik, saat ini mulai diarahkan kepada hal-hal yang positif. Hingga saat ini, masyarakat menganggap warok sebagai orang yang dituakan atau disegani di daerahnya. Profil warok saat ini mulai diarahkan nilai kepemimpinan yang positif dan menjadi panutan masyarakat. Termasuk pula memelihara gemblak yang kini semakin luntur. 

Saran
Pemerintah Kabupaten Ponorogo dan masyarakat Ponorogo harus saling bekerjasama untuk lebih mengembangkan dan menjaga Kesenian Reog Ponorogo, karena Malaysia sudah mengklaim kebudayaan ini dan supaya anak muda di Ponorogo tidak melupakan kebudayaan di daerahnya sehingga kebudayaan  ini tidak hilang begitu saja.



Sabtu, 29 Desember 2012

pasar songgolangit



Abstrak: Artikel ini mencoba untuk menjelaskan tentang sejarah Pasar Songgolangit yang berada di Kabupaten Ponorogo.Yang akan dijelaskan telebih dahulu mengenai letak geografis Kabupaten Ponorogo dan keadaan sosial ekonomi masyarakat Ponorogo. Disini juga akan dijelaskan pengertian umum pasar, sejarah pasar dan jenis-jenis pasar. Pasar Songgolangit  merupakan pasar terbesar yang dimiliki oleh Kabupaten Ponorogo. Songgolangit sendiri juga diambil dari nama seorang putri yang menjadi cikal bakal lahirnya Kabupaten Ponorogo.

Kata Kunci: Pasar, Kabupaten Ponorogo, Pasar Songgolangit


PENDAHULUAN
Upaya manusia untuk memenuhi kebutuhannya sudah berlangsung sejak manusia itu ada. Salah satu kegiatan manusia dalam usaha memenuhi kebutuhan tersebut adalah memerlukan adanya pasar sebagai sarana pendukungnya. Pasar merupakan kegiatan ekonomi yang termasuk salah satu perwujudan adaptasi manusia terhadap lingkungannya. Hal ini didasari atau didorong oleh faktor perkembangan ekonomi yang pada awalnya hanya bersumber pada problem untuk memenuhi kebutuhan hidup (kebutuhan pokok).
Pengertian pasar atau definisi pasar adalah tempat bertemunya calon penjual dan calon pembeli barang dan jasa. Di pasar antara penjual dan pembeli akan melakukan transaksi. Dalam arti sempit, pasar adalah tempat dilakukannya kegiatan jual beli berbagai macam barang dan jasa untuk keperluan hidup sehari-hari. Dalam pengertian yang lebih luas, pasar adalah proses berlangsungnya transaksi permintaan dan penawaran atas barang dan jasa.
Dalam ilmu ekonomi, pengertian pasar tidak harus dikaitkan dengan suatu tempat yang dinamakan pasar dalam pengertian sehari-hari. Suatu pasar dalam ilmu ekonomi adalah dimana saja terjadi transaksi antara penjual dan pembeli. Barang yang ditransaksikan bisa barang apapun, mulai dari beras dan sayur mayur, sampai ke jasa angkutan, uang, dan tenaga kerja. Setiap barang ekonomi mempunyai pasarnya sendiri-sendiri. Pasar beras, pasar sayur, pasar sepatu, pasar jasa angkutan termasuk kategori pasar output. Sedangkan pasar modal, pasar tenaga kerja, pasar tanah termasuk pasar input.
Di masing-masing pasar terjadi transaksi pasar untuk barang yang bersangkutan. Dan apabila terjadi suatu transaksi, maka ini berarti telah terjadi suatu persetujuan (antara pembeli dan penjual) mengenai harga transaksi dan volume transaksi bagi barang tersebut. Dua aspek transaksi inilah (yaitu harga dan volume) yang menjadi pusat perhatian ahli ekonomi apabila ia menganalisa suatu pasar.
Pokok penulisan artikel adalah Sejarah Pasar Songgolangit Ponorogo. Pada artikel ini, penulis menganalisis terbentuknya  Pasar Songgolangit Ponorogo yang dulunya bernama Pasar Legi, penulis juga memaparkan bagaimana keadaan Kota Ponorogo dengan menggunakan sumber Buku Selintas Perkembangan Muhammadiyah Ponorogo. Lalu juga menyertakan gambar-gambar yang relevan sesuai dengan apa yang dibahas.
Berkaitan dengan paparan diatas maka rumusan masalah dalam artikel ini antara lain: (1.) bagaimana asal mula terbentuknya pasar?, (2.) Apa saja jenis-jenis pasar?, (3.) bagaimana keadaan sosial-ekonomi masyarakat Ponorogo?, (4.) Bagaimana sejarah Pasar Songgolangit Ponorogo?. Tujuan dari penulisan artikel ini adalah: (1.) menjelaskan asal mula terbentuknya pasar, (2.) menjelaskan jenis-jenis pasar, (3.) memaparkan keadaan sosial-ekonomi masyarakat Ponorogo, (4.) mendeskripsikan sejarah Pasar Songgolangit Ponorogo.


METODE PENELITIAN
Penulisan artikel ini menggunakan studi kesejarahan dan wawancara untuk memperoleh pengetahun khusus tentang pola dan struktur perekonomian di Kabupaten Ponorogo dan sejarah Pasar Songgolangit dengan cara analisis terhadap sumber-sumber yang diperoleh.
Langkah yang ditempuh penulis dalam menyusun artikel ini antara lain:
1.      Pemilihan Topik
Pemilihan topik Sejarah Pasar Songgolangit Ponorogo diambil oleh penulis karena pasar ini merupakan pasar tradisional terbesar di Ponorogo dan menjadi pasar kebanggaan masyarakat Ponorogo.
2.      Pengumpulan Data
Terkait dengan hal ini, penulis melakukan beberapa cara seperti: mengunjungi tempat-tempat yang berhubungan dengan topik pembahasan, wawancara dengan salah sorang pegawai Pasar Songgolangit, serta mencari data dari internet.
3.      Kritik Sumber
Penulis menghubungkan informasi yang diperoleh dari sumber yang di dapat dari hasil wawancara serta sumber lainnya. Kritik dilakukan dalam mengolah sumber yang berbentuk artikel dari internet.

HASIL
Pasar tradisional merupakan tempat bertemunya penjual dan pembeli serta ditandai dengan adanya transaksi penjual pembeli secara langsung, bangunan biasanya terdiri dari kios-kios atau gerai, los dan dasaran terbuka yang dibuka oleh penjual maupun suatu pengelola pasar.
Masyarakat Ponorogo sejak tahun 1920-an sudah memiliki berbagai lapangan kerja. Ketrampilan ini diperoleh secara turun temurun. Ada yang bertani ladang, ada pula yang mengolah sawah. Perikanan dan peternakan pun sudah dilakukan oleh masyarakat ponorogo walaupun sekedar hobi. Adapun masyarakat perkotaan, lapangan pekerjaan lebih mengarah ke pedagang, pengusaha batik, dan penjual candu,


PEMBAHASAN

SEJARAH PASAR SONGGOLANGIT PONOROGO
Sudah sejak zaman dahulu kota tidak akan pernah terlepas dari pusat kegiatan komersil yang disebut dengan pasar. Sejarah pasar di awali pada zaman pra sejarah, dimana didalam memenuhi kebutuhan manusia melakukan sistem barter, yaitu suatu sistem yang diterapkan antara dua individu dengan cara menukar barang yang satu dengan barang yang lainnya dan akhirnya sistem barter ini berkembang secara luas.
Dalam terminologi ilmu ekonomi, sebenarnya tidak terdapat istilah pasar tradisional. Istilah tersebut muncul ketika terdapat fenomena di berbagai negara (terutama di negara-negara sedang berkembang, termasuk Indonesia), dimana adanya dua tipe pasar yang secara operasional berbeda tetapi berjalan secara bersamaan, yang kemudian diistilahkan dengan pasar tradisional dan pasar modern.
Sedangkan sejarah terbentuknya pasar itu sendiri berawal dari kebiasan masyarakat jaman dahulu yang menggunakan sistem barter atas barang yang dibutuhkannya namun tidak diproduksi sendiri. Untuk melakukan barter, dipilih sebuah tempat yang disepakati bersama. Lama-kelamaan tempat tersebut berubah menjadi pasar. Kegiatan yang dilakukan disana pun tidak hanya sekedar barter namun sudah berupa kegiatan jual beli dengan menggunakan alat pembayaran berupa uang.
Timbulnya pasar tidak lepas dari kebutuhan ekonomi masyarakat setempat. Kelebihan produksi setelah kebutuhan sendiri terpenuhi memerlukan tempat pengaliran untuk dijual. Selain itu pemenuhan kebutuhan akan barang-barang, memerlukan tempat yang praktis untuk mendapatkan barang-barang baik dengan menukar atau membeli. Adanya kebutuhan-kebutuhan inilah yang mendorong munculnya tempat berdagang yang disebut pasar.
Pasar tradisional merupakan tempat bertemunya penjual dan pembeli serta ditandai dengan adanya transaksi penjual pembeli secara langsung, bangunan biasanya terdiri dari kios-kios atau gerai, los dan dasaran terbuka yang dibuka oleh penjual maupun suatu pengelola pasar. Pasar modern dari sisi barang yang diperdagangkan, tidak banyak berbeda dari pasar tradisional, namun dalam pasar modern penjual dan pembeli tidak bertransaksi secara langsung melainkan pembeli melihat label harga yang tercantum dalam barang (barcode), berada dalam bangunan dan pelayanannya dilakukan secara mandiri (swalayan) atau dilayani oleh pramuniaga. Contoh dari pasar modern adalah pasar swalayan, hypermarket, supermarket, dan minimarket.
Pasar tradisional dalam awal-awal keberadaannya memiliki peranan yang penting dalam perkembangan wilayah dan terbentuknya kota. Sebagai pusat aktivitas ekonomi masyarakat, pasar tradisional telah mendorong tumbuhnya pemukiman-pemukiman dan aktivitas sosial-ekonomi lainnya di sekitar pasar tersebut, dan pada tahap selanjutnya berkembang menjadi pusat pemerintahan. Jasa besar pasar tradisional (tentunya dengan pelaku-pelaku di dalam pasar tersebut), hampir tidak terbantahkan terutama jika kita lihat sejarah berdirinya hampir seluruh kota di Indonesia.
Pada umumnya pasar tradisional merupakan tempat penjualan bahan – bahan kebutuhan pokok (sembako). Biasanya pasar tradisional beraktifitas dalam batas – batas waktu tertentu, seperti pasar pagi, pasar sore, pasar pekan dan lain sebagainya. Pasar tradisional biasanya dikelola oleh pemerintah maupun swasta, fasilitas yang tersedia biasanya merupakan bangsal –  bangsal, loods – loods, gudang, toko – toko, stand – stand/kios – kios, toilet umum pada sekitar pasar tradisional. Pada pasar tradisional proses jual beli terjadi secara manusiawi dan komunikasi dengan nilai – nilai kekeluargaan yang tinggi.
Pasar pada prinsipnya adalah tempat dimana para penjual dan pembeli bertemu. Tetapi apabila pasar telah terselenggara dalam arti para pembeli dan penjual sudah bertemu serta barang-barang kebutuhan sudah disebarluaskan, maka pasar memperlihatkan peranannya bukan hanya sebagai pusat kegiatan ekonomi tetapi juga sebagai pusat kebudayaan.
Adapun komponen-komponen pasar antara lain adalah lokasi, bentuk fisik, komoditi, produksi, distribusi, transportasi, transaksi serta rotasi. Komponen-komponen pasar tersebut mempunyai keterkaitan fungsi masing-masing yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain, umpamanya faktor produksi sangat tergantung pada faktor distribusi dan untuk lancarnya suatu distribusi sangat diperlukan sarana transportasi yang baik, sehingga hasil produksi dapat mencapai pasar. Jalur transportasi tidak dapat dilepaskan dari lokasi pasar karena suatu pasar dianggap baik jika lokasinya mudah dicapai. Lokasi yang mudah dijangkau sangat mempengaruhi banyaknya orang yang datang kepasar yang dapat mengakibatkan naiknya jumlah transaksi. Meningkatnya transaksi dapat menyebabkan jumlah produksi naik. Satu hal yang penting kaitannya dengan sistem pasar ialah rotasi pasar yang merupakan kerjasama antar beberapa desa yang tentunya melibatkan warga masyarakat dari desa-desa bersangkutan.
Fungsi pasar sebagai pusat perekonomian kota sangat penting, karena kota merupakan tempat himpunan masyarakat dari berbagai tempat yang kehidupannya lebih dititik beratkan pada perdagangan. Di dalam kota, ada lebih dari satu pasar dan letaknya tidak selalu dekat dengan alun-alun tetapi ada juga yang dibuat dekat perkampungan para pedagang. Di dalam kota-kota, selain terdapat tempat peribadatan, pasar dan bangunan untuk penguasa yaitu keraton, terdapat pula perkampunga-perkampungan. Perkampungan itu ada yang didasarkan kepada status social-ekonomi, status keagamaan, dan status kekuasaan dalam pemerintah.
Kabupaten Ponorogo, merupakan salah satu kabupaten yang berada di sisi tenggara Jawa Timur. Luas daerah Ponorogo mencapai 137 115 Ha. Batas-batas wilayah Kabupaten Ponorogo di sebelah utara yakni Kabupaten Madiun dan Kabupaten Magetan, di sebelah timur yakni Kabupaten Trenggalek, di sebelah selatan yakni Kabupaten Trenggalek dan Kabupaten Pacitan, dan di sebelah barat yakni Kabupaten Pacitan dan Kabupaten Wonogiri.
Sesuai letak geografinya, masyarakat Ponorogo sejak tahun 1920-an sudah memiliki berbagai lapangan kerja. Ketrampilan ini diperoleh secara turun temurun. Ada yang bertani ladang, ada pula yang mengolah sawah dengan sistem penggarapan yang masih sangat sederhana. Hasil yang diperoleh belum mencukupi kebutuhan, dikarenakan perkebunan digarap dalam jumlah dan jenis yang terbatas yang hanya untuk memenuhi kebutuhan Belanda, misalnya kapas dan tebu. Peternakan pun sudah dilaksanakan, namun dalam bentuk yang sederhana pula. Perikanan sudah dilakukan pula, walaupun hanya didukung oleh hobi. Begitu juga tentang kerajinan, para pengrajin mampu memenuhi kebutuhan pribadi, masyarakat,dan pemerintah. Penggalian batu kali, pasir, dan gamping juga jenis mata pencaharian yang telah lama diusahakan masyarakat Ponorogo untuk menopang ekonomi keluarga. Tukang delman dan pedati bagi masyarakat Ponorogo menduduki nilai ekonomi tersendiri sebagai penjual jasa di bidang transportasi. Masyarakat perkotaan waktu itu memiliki kegiatan ekonomi yang lebih maju, misalnya pedagang, pengusaha batik, penjual candu, dan sebagainya.
Kabupaten Ponorogo memiliki fasilitas perdagangan yang cukup lengkap, fasilitas tersebut berupa pasar dan pertokoan yang tersebar di seluruh wilayah. Pasar-pasar besar Kabupaten Ponorogo antara lain Pasar Legi atau yang sekarang disebut Pasar Songgolangit di Kecamatan Ponorogo, Pasar Wage di Kecamatan Jetis, Pasar Pon di Kecamatan Jenangan dan pasar-pasar lain yang umumnya buka menurut hari dalam penanggalan Jawa. Di kabupaten ini juga terdapat pasar hewan terbesar di Karesidenan Madiun, yaitu Pasar Hewan Jetis yang buka setiap hari Pahing.
Selain menyediakan kebutuhan pokok sehari-hari, keberadaan pasar tersebut juga penting dalam rangka menunjang kegiatan sistem koleksi–distribusi terhadap barang-barang kebutuhan penduduk dan beberapa komoditi pertanian yang dihasilkan oleh Kabupaten Ponorogo. Sedangkan fasilitas perdagangan yang berupa pertokoan banyak berkembang di kabupaten ini terutama toko-toko swalayan.
Dalam hal ini, salah satu pasar tradisional yang menjadi kebanggaan masyarakat Ponorogo yakni Pasar Songgolangit. Terletak di Jalan Soekarno-Hatta Ponorogo. Di sebelah timur pasar, tepatnya di Jalan Hayam Wuruk terdapat sebuah mushola yang bernama Mushola Nyai Ahmad Dahlan yang menjadi cikal bakal lahirnya Muhammadiyah di Kabupaten Ponorogo.
Pasar (tradisional) yang selama ini sudah menyatu dan memiliki tempat penting dalam kehidupan masyarakat. Bagi masyarakat, pasar bukan hanya sebagai tempat bertemunya penjual dan pembeli, tetapi juga sebagai wadah interaksi sosial dan representasi nilai-nilai tradisional yang ditunjukan oleh perilaku para aktor-aktor di dalamnya. Para pelaku pasar tradisional umumnya mengabaikan notion waktu adalah uang. Para penjual dalam menawarkan dagangannya lebih mendahulukan pendekatan personal dan memperlihatkan ketidaktergesaan. Fenomena ini membalikan salah satu ciri ekonomi neoliberaldi mana kecepatan dan percepatan merupakan syarat utama untuk memenangi apapun.
Suasana pasar terjalin bukan sekedar hubungan formal jual beli antara penjual dan pembelisaja, namun lebih dari itu, yakni mereka saling bertegur sapa dan bercengkrama dengan bahasamereka yakni bahasa daerah. Mereka merasa terlepas dari ketegangan dan himpitan bebanhidup yang semakin berat. Sehingga bagi masyarakat berbelanja ke pasar yang ramai dan tidakterlalu bersih itu menjadi seperti kebutuhan hidup.Malah tidak sedikit di pasar tradisional itu pedagang yang biasa jualannya dengan caradiutangkan. Atau penjualnya terjerat utang oleh rentenir yang berkeliaran mencari mangsa dipasar itu. Mereka selalu dan sangat tergantung dalam hal penyediaan modal kepada “bankkeliling”, yang konon bunga banknya lebih dari 20%. Cara berdagang seperti itu menjadi absurddalam sistem ekonomi modern. Tetapi bagi sebagian orang berjualan seperti itu di pasar bukansemata-mata mencari keuntungan. Meskipun sektor kerja mereka berada di wilayah ekonomi subsisten. Mereka lebih mengangkat kekerabatan dan kebersamaan sebagai hal yang utama. Di pasar,mereka merasa senang karena bisa bertemu dan berkomunikasi dengan langganan dan teman-temannya.Bahkan tidak sedikit di antara sesama pedagang saling berutang dan salingmencukupi kebutuhan.Itulah kegiatan pasar tradisional yang memperlihatkan kebertautan antara kebudayaan danekonomi. Pasar itu bukan tempat suci, tetapi solidaritas dan kepercayaan terbangun di sini.
Awalnya, Pasar Songgolangit bernama Pasar Legi. Pasar Legi berdiri sekitar tahun 1827, hampir bersamaan dengan berdirinya Pasar Pon, Pasar Alon-alon, dan Pasar Gampingan. Letak Pasar Legi dipisahkan oleh Jalan Urip Sumoharjo, sehingga juga terdapat pemisahan jenis barang dagangan. Pasar bagian utara jenis barang dagangan berupa sembako dan kebutuhan sehari-hari, pada bagian selatan jenis dagangan berupa kain-kain.
Biasanya pasar menggunakan penerapan konsep pancawara terhadap sistem pemukiman. Pancawarna  mengatur rotasi hari-hari pasar pada wilayah-wilayah tertentu. Pancawarna adalah nama dari sebuah pekan atau minggu yang terdiri dari lima hari, dalam budaya Jawa dan Bali. Pancawarna juga disebut sebagai hari pasaran dalam bahasa Jawa. dalam sistem penanggalan Jawa dan Bali terdapat 2 macam siklus waktu yaitu mingguan dan pasaran. Masing-masing hari-hari pasar itu mempunyai watak yang berbeda. Watak hari-hari pasar ini dapat dihitung menggunakan Kalender Jawa (Petungan Jawi), yaitu perhitungan baik buruk yang dilukiskan dalam lambang dan watak suatu hari, tanggal, bulan dan tahun. Petungan Jawi dengan kelengkapannya itu dapat dipercaya sebagai pelukisan watak bawaan atau pengaruhnya terhadap kehidupan manusia dan kesesuaiannya dengan alam. Adapun watak atau karakter dari masing-masing hari-hari pasar adalah sebagai berikut: (1) Pahing, wataknya melikan artinya suka pada barang yang kelihatan, mempunyai rupa merah dan bertempat di sebelah selatan; (2) Pon, wataknya pamer artinya suka memamerkan harta miliknya, mempunyai rupa kuning dan bertempat di sebelah barat; (3) Wage, wataknya kedher artinya kaku hati/ teguh bicara, mempunyai rupa hitam dan bertempat di sebelah utara; (4) Kliwon, wataknya micara artinya dapat mengubah bahasa, bertempat di tengah-tengah/induk dan mempunyai rupa manca warna; (5) Manis/Legi, wataknya komat artinya sanggup menerima segala macam keadaan, mempunyai rupa putih dan bertempat disebelah timur.
Jadi, menurut watak atau karakter dari uraian di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa Pasar Legi mempunyai watak yang komat yang artinya sanggup menerima segala macam keadaan, mempunyai rupa putih dan bertempat disebelah timur. Letak Pasar Legi sendiri juga sesuai dengan watak, karena Pasar Legi terletak di sebelah timur alon-alon Ponorogo.
Pada tahun 1995, Pasar Legi mengalami kebakaran hebat yang mengalami kerugian miliaran rupiah. Hal ini dirasakan oleh masyarakat sekitar pasar yang berlokasi strategis, "terbakar" atauada indikasi sengaja dibakar. Hal ini tentu saja dengan melihat kenyataan bahwa tidak lamasetelah dibakar, di tempat tersebut biasanya berdiri pusat perbelanjaan megah. Renovasi selamaini dengan mengatasnamakan kepentingan pedagang, tak jarang melalui penunjukanpengembang tanpa tender. Namun kenyataannya sering kali "menghianati" pedagang lama yangsebelumnya ada. Malah belakangan ini muncul modus-modus baru menggusur pasar tradisionalmelalui kekerasan dengan mengerahkan aparat.
Pada tahun 1997, Pasar Legi kembali berdiri dan berganti nama menjadi Pasar Songgolangit. Nama Songgolangit sendiri diambil dari nama Dewi Songgolangit yang merupakan putri mahkota dari Kerajaan Kediri dalam salah satu versi cerita asal-usul Reyog Ponorogo. Mempunyai paras wajah yang cantik dan berbudi pekerti luhur menjadi daya tarik bagi raja-raja dan putra mahkota di wilayah Pulau Jawa. Sifat luhur tersebut ditunjukkan ketika hendak memilih pasangan hidup. Sang Dewi memohon petunjuk dari Sang Hyang Widhi dengan bersemedi. Dan hanya ada satu pemenang yang berhasil mendapatkan hati Sang Dewi dengan mempertontonkan kesenian baru dan hewan berkepala dua sesuai syarat yang telah diucapkannya. Dialah Sang Prabu Kelana Sewandana dari Kerajaan Bantarangin yang berkuasa di Wengker, Ponorogo. Cerita tersebut menjadi cerita resmi dan abadi dalam setiap pertunjukan Tari Reyog.
Karena cerita yang populer tersebut, nama Dewi Songgolangit sangat terkenal di kota Ponorogo dan sekitarnya. Sebagai bentuk penghargaan terhadap kebudayaan yang mengharumkan kota Ponorogo, nama "Pasar Legi" yang telah terbakar hebat beberapa tahun lahu, kini telah berdiri bangunan pasar baru dan diberi nama "Pasar Songgolangit". Pasar tersebut menjadi salah satu pusat perdagangan tradisional dan moderen yang menjadi kebanggaan masyarakat Ponorogo.
Pasar Legi yang dulu menggunakan sistem pancawarna, setelah mengalami kebakaran dan berganti nama menjadi Pasar Songgolangit, pasar ini sudah tidak menggunakan sistem pancawarna lagi dan kegiatan ekonomi dilakukan setiap hari. Mengingat Pasar Songgolangit terletak dekat dengan wilayah perkotaan. Pasar yang terdapat dikota biasanya terselenggara setiap hari sehingga kegiatan perekonomiannya terjadi secara rutin dan menetap sering disebut pasar harian.


DAFTAR RUJUKAN
AR, M.B Rahimsyah. 1990. Asal-usul Reog Ponorogo. ----------: Karya Anda, Angota IKAPI.
Boediono. 2010. Ekonomi mikro. BPFE-Yogyakarta: Yogyakarta.
Case Karl E & Fair Ray C. 2007. Prinsip-prinsip Ekonomi Jilid 1. Erlangga: Jakarta.
Chourmain, Imam dan Prihatin. 1994. Pengantar Ilmu Ekonomi. Jakarta : Depdikbud.
Majid, M. Dien. 1988. Pasar Angkup (Studi Kasus Perilaku Pasar) Dalam Perdagangan, Pengusaha Cina, Perilaku Pasar. Jakarta : PT. Pustaka Grafika Kita.
Marwati, Djoened Poesponegoro. 1993. Volume 3 dari Sejarah nasional Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Nastiti, Titi Surti. 2003. Pasar di Jawa Masa Mataram Kuna Abad VIII-IX Masehi. Jakarta : PT. Dunia Pustaka Jaya.
Sinaga, Josua Moreno. 1976. Laporan Survey Pasar DKI Jakarta. Jakarta: LPEM – FEUI.
Tim Penulisan dan Penelitian Sejarah Muhammadiyah Ponorogo. 1991. Selintas Perkembangan Muhammadiyah Ponorogo. Jakarta: Pimpinan Daerah Muhammadiyah Majlis Pustaka Ponorogo.
-------------. 1990. Peranan Pasar Pada Masyarakat Pedesaan Sumatera Barat. Jakarta: Depdikbud.
Bapak Supriyanto sebagai informan



x