saat ini, kita berjalan beriringan
tertatih dan saling menguatkan
perjalanan yang sebenarnya sangat melelahkan
ada kalanya kita merasa bosan
ada waktunya kita mencoba melupakan
ada saatnya kita hampir menyerah dan meninggalkan
semuanya itu seolah terhapus hanya dengan satu kata
do'a..
kita sangat menyadari
bahwa kita hanya dikuatkan oleh sebait do'a
do'a dengan bernafaskan cinta
sepenggal pengharapan agar kita senantiasa bahagia
permintaan agar kelak kita dalam kisah yang sama
namun, kita juga menyadari
pada akhirnya, kita tidak akan pernah tahu pada siapa hati kita akan bersua
tapi percayalah, ada Tuhan yang tidak pernah lelah menuntun di setiap langkah kita.
Malang, 20 April 2016
03.00 AM
Selasa, 19 April 2016
Rabu, 24 Juni 2015
Minggu, 26 Januari 2014
Paralayang
getar bibirmu
matamu yang biru
pelan-pelan luruh dan senyap membasuh lukaku
dan seperti memilin rindu,
engkau dan aku sama terpaku
betapapun aku ingin memasuki segalanya dalam dirimu,
lalu menunggu..
betapapun aku ingin menjadi matahari yang telah berlalu,
melingkupimu..
malam, aku tidak ingin engkau cepat berlalu
bisikmu pada hujan
lalu diam.
hujan, aku ingin bersama ia hari ini
menuai mimpi.
aku hanya ingin ia,
engkau
bersama
saling bercengkrama.
31 Januari 2013
Tuan Penggenap Renggang Jemari
matamu yang biru
pelan-pelan luruh dan senyap membasuh lukaku
dan seperti memilin rindu,
engkau dan aku sama terpaku
betapapun aku ingin memasuki segalanya dalam dirimu,
lalu menunggu..
betapapun aku ingin menjadi matahari yang telah berlalu,
melingkupimu..
malam, aku tidak ingin engkau cepat berlalu
bisikmu pada hujan
lalu diam.
hujan, aku ingin bersama ia hari ini
menuai mimpi.
aku hanya ingin ia,
engkau
bersama
saling bercengkrama.
31 Januari 2013
Tuan Penggenap Renggang Jemari
Kamis, 27 Juni 2013
Kasihku (barangkali ini)
kasihku,
seanggun senyummu
mengantarku ke jalan terjal
menuju jenjang buah bibirmu
menyatukan matahari
kasihku,
sebening matamu
memberiku seteguk matahari
dengan khas wanginya dipagi hari
menelanjangi embun dalam pertapa sunyi,
kasihku,
seluas dadamu
meletakkanku pada ruas detak jantungmu
sepanjang tanahku
atau ke benua benua barangkali,
menelusuri pulau pulau
dari pulau kiri smpai pulau kirana
kasihku,
selaksa kasihmu dalam kisah almasih
maryam dalam tanah jeruji
ibrahim dan ismail dalam ikrar suci
itulah barangkali,
karena kasihku tak terbilang waktu
sesungguhnya kasihku, adalah tanah yang terus kau airi
dalam musim kemarau dan semiku..
by "Kunang-kunang Senja"
28 Juni 2013
seanggun senyummu
mengantarku ke jalan terjal
menuju jenjang buah bibirmu
menyatukan matahari
kasihku,
sebening matamu
memberiku seteguk matahari
dengan khas wanginya dipagi hari
menelanjangi embun dalam pertapa sunyi,
kasihku,
seluas dadamu
meletakkanku pada ruas detak jantungmu
sepanjang tanahku
atau ke benua benua barangkali,
menelusuri pulau pulau
dari pulau kiri smpai pulau kirana
kasihku,
selaksa kasihmu dalam kisah almasih
maryam dalam tanah jeruji
ibrahim dan ismail dalam ikrar suci
itulah barangkali,
karena kasihku tak terbilang waktu
sesungguhnya kasihku, adalah tanah yang terus kau airi
dalam musim kemarau dan semiku..
by "Kunang-kunang Senja"
28 Juni 2013
Jumat, 21 Juni 2013
Elegi Ni
Hujan ini takkan berhenti mencatat sejarah
Hingga aku benar-benar berlabuh di danau matamu yang asmara
Dayunglah sampan resahmu ke muara kesetiaan
Bangunlah kuil di dadamu
Agar purnama bisa mendekap lebih lekat
Satukanlah purnama yang hampir sempurna
Biarkan aku menjadi bintang di langit hatimu
Tak usah kau sebut siapa-siapa
Sebab ia tak bernama
Seperti jejak langkahmu yang tertanam dalam rahim waktu.
21 Juni 2013
By "Kunang-kunang Senja"
Hingga aku benar-benar berlabuh di danau matamu yang asmara
Dayunglah sampan resahmu ke muara kesetiaan
Bangunlah kuil di dadamu
Agar purnama bisa mendekap lebih lekat
Satukanlah purnama yang hampir sempurna
Biarkan aku menjadi bintang di langit hatimu
Tak usah kau sebut siapa-siapa
Sebab ia tak bernama
Seperti jejak langkahmu yang tertanam dalam rahim waktu.
21 Juni 2013
By "Kunang-kunang Senja"
Angka Dalam Duka
Satu adalah aku yang terkapar bersama waktu
Dua adalah aku yang terluka
Tiga adalah aku yang nista
Empat adalah aku yang tak lagi punya hibat
Lima adalah aku yang tak lagi purnama
Enam adalah aku yang terbenam
Tujuh adalah aku yang luruh
Delapan adalah aku yang tak lagi punya elan
Sembilan adalah aku yang tak lagi punya harapan
Sepuluh adalah aku yg rapuh
: karenamu..
14 Juni 2013
By "Kunang-Kunang Senja"
Dua adalah aku yang terluka
Tiga adalah aku yang nista
Empat adalah aku yang tak lagi punya hibat
Lima adalah aku yang tak lagi purnama
Enam adalah aku yang terbenam
Tujuh adalah aku yang luruh
Delapan adalah aku yang tak lagi punya elan
Sembilan adalah aku yang tak lagi punya harapan
Sepuluh adalah aku yg rapuh
: karenamu..
14 Juni 2013
By "Kunang-Kunang Senja"
Hujan dan Geriap Rindu
Ni, disini hujan,
Apakah kau dengar?
Tapi sepertinya belum turun.
Ni, ada tangis dari gerimis yang mulai tercium pagi.
Begitu wangi,
sesekali ingin menjadi segalanya pada pagi ini.
Pada ketiadaan.
Pada tanah dimana rindu mulai menjamah.
Coba kau lihat, Ni
hujan dan rindu tak pernah mendahului
apalagi membelakangi, katamu
mereka saling akrab menemani sepi
bahkan ketika waktu mulai letih
hujan dengan segera singgah dan mentasbihi
dan ketika segalanya nyaris tiada
rindu segera merapalkan do'a do'a
sementara engkau, cukup mengamininya,
Ni, disini msih hujan,
apakah kau dengar?
15 Juni 2013
By "Kunang-kunang Senja"
Langganan:
Postingan (Atom)